Apr
19
Filed Under (Sajak) by daengnuntung on 19-04-2008

menghitung selaksa gelembung
pantai ini
tasbih layaknya
mendoamu sang penyelam ulung
hingga duapuluh depa
berlalu ke ujung tanjung
 
belum beranjak dari gosong
masih merajut jaring-jaring
berlabuh di pasir maju mundur
laksana gasing
hidupnya adalah rolet
demi lelaki pilihan

Banda Aceh, 2007

Apr
19
Filed Under (Sajak) by daengnuntung on 19-04-2008

‘Ku malu pada bulan
Pintunya hanya separuh buka
Di pojok
Mengisap berselimut
menyeringai
 
Tanpa rasa
dan khawatir
‘Ku hanya selalu haus

Apr
19
Filed Under (Sajak) by daengnuntung on 19-04-2008

kepada mahdi anakku,
makna kulukis bagai daun
yang satu satu hijau muda
lalu akan menua jadi abu abu
dan tak tehitung deru
hidup hingga jadi debu

dan aku bapakmu,
menjelang tua
kumampatkan semangat,
tak lupa petuah

mahdi adalah juga doa,
berharap tetap karim
ditengah dunia yg tiada lelah
bergeser ke peradaban barunya.

Banda Aceh, 2007

Apr
19
Filed Under (Sajak) by daengnuntung on 19-04-2008

saibung sannawing adalah dayung
yang mencari kusut samudera
bagai siput di dasar telaga
sisa-sisa sejarah telah mengerucut

di ujung pasir
dan taka di pulau gelimang garam
telah perihkan mata dan dada
mengiris kepedihan
buah janji dan rayuan

saibung dan sannawing: punggung yang menghitam
ujungnya tergerus
rucah sejak lahir
hingga dijemput air mata

Banda Aceh, 2007

Apr
19
Filed Under (Sajak) by daengnuntung on 19-04-2008

menjejak kaki
kaku terpaku
ke kota tua: benteng karang,
pengelana menjemput bulan baik.

seraya tengadah: hujankah?
backpack  rasa terisi penuh
tapi haus lapar silih berganti
berharap melepas capai.
si bulan tak kuasa
karena badan tak kuasa
letih setelah mencuci pagi yang tak punya janji

berbuka
demi janji seorang baru

Banda Aceh, 2007