menghitung selaksa gelembung
pantai ini
tasbih layaknya
mendoamu sang penyelam ulung
hingga duapuluh depa
berlalu ke ujung tanjung
belum beranjak dari gosong
masih merajut jaring-jaring
berlabuh di pasir maju mundur
laksana gasing
hidupnya adalah rolet
demi lelaki pilihan
Banda Aceh, 2007
‘Ku malu pada bulan
Pintunya hanya separuh buka
Di pojok
Mengisap berselimut
menyeringai
Tanpa rasa
dan khawatir
‘Ku hanya selalu haus
kepada mahdi anakku,
makna kulukis bagai daun
yang satu satu hijau muda
lalu akan menua jadi abu abu
dan tak tehitung deru
hidup hingga jadi debu
dan aku bapakmu,
menjelang tua
kumampatkan semangat,
tak lupa petuah
mahdi adalah juga doa,
berharap tetap karim
ditengah dunia yg tiada lelah
bergeser ke peradaban barunya.
Banda Aceh, 2007
saibung sannawing adalah dayung
yang mencari kusut samudera
bagai siput di dasar telaga
sisa-sisa sejarah telah mengerucut
di ujung pasir
dan taka di pulau gelimang garam
telah perihkan mata dan dada
mengiris kepedihan
buah janji dan rayuan
saibung dan sannawing: punggung yang menghitam
ujungnya tergerus
rucah sejak lahir
hingga dijemput air mata
Banda Aceh, 2007
menjejak kaki
kaku terpaku
ke kota tua: benteng karang,
pengelana menjemput bulan baik.
seraya tengadah: hujankah?
backpack rasa terisi penuh
tapi haus lapar silih berganti
berharap melepas capai.
si bulan tak kuasa
karena badan tak kuasa
letih setelah mencuci pagi yang tak punya janji
berbuka
demi janji seorang baru
Banda Aceh, 2007